Ya, itu
merupakan kutipan dari Scumbag
Genius Patrick Star. Saya menemukannya saat berkunjung ke halaman tumblr teman.
Awalnya hanya menganggap lalu, tapi kemudian terbawa pada suatu awangan.
Saya pernah berpikir
tentang siapakah manusia yang paling bahagia di dunia. Apakah orang dengan
kekayaan terbanyak? Kekayaan memang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi ia
dapat membantu dalam mencapai kebahagiaan itu toh? Ah, tapi saya tidak merasa sreg
dengan dugaan yang satu itu.
Pernah saya
mendengar curhatan teman mengenai
penampilannya. Ia terkadang merasa cemas atas orang–orang di sekitarnya. Alasan
di balik kecemasannya adalah ia beranggapan bahwa perhatian orang–orang di
sekitar terhadap dirinya disebabkan penampilannya; Teman saya ini mengasumsikan
asumsi orang lain. Kecemasan itu membuat dirinya tidak nyaman selama ia berada
di suatu tempat sehingga seringkali ia berkeinginan untuk pergi dari tempat
tersebut jika rasa cemas itu muncul.
Sedari tadi saya seperti
mengkambinghitamkan rasa cemas. Memangnya rasa cemas itu siapa? Sebenarnya rasa
cemas merupakan perasaan yang wajar, seperti yang disebutkan King (2011) bahwa “anxiety is such everyday feelings”. Menurut
Gorman dkk. (2002) kecemasan adalah “sort of
feeling that sneaks up on you from the day after tomorrow”. Kecemasan
menjaga manusia dari perasaan terlalu aman, ia membuat manusia berusaha untuk survive dalam hidupnya. Contoh ekstrimnya,
Gorman mengumpamakan “humans have felt it
since the days they shared the planet with saber-toothed tigers”.
Lalu, di mana hubungan
penjelasan rasa cemas dari kedua tokoh dengan pengalaman teman saya? Well mengenai survive dalam hidup, saya berpikiran bahwa kecemasan yang ada pada
teman saya, membantunya untuk survive,
agar sesuai dengan batas penampilan yang wajar menurut orang lain (yang
sebenarnya batasan tersebut hanya buah pikiran teman saya ini). Singkat kata, penampilan
diri yang “wajar” merupakan aspek hidup yang ingin dituju teman saya. Hal ini
sekiranya muncul seiring kepedulian teman saya atas penilaian orang terhadap
dirinya. Sehingga saya mengira kecemasan tersebut berakar dari rasa peduli meski
belum menemukan pendapat ahli tentang ini.
Lebih lanjut
tentang perkiraan mengenai akar kecemasan, teman saya cemas akan penampilannya
karena ia peduli atas penilaian orang lain. Tidak mengherankan jika dalam kelas
Filsafat Manusia dijelaskan bahwa Sartre menganggap orang lain adalah neraka, “hell is other people”. Keberadaan orang
lain menyebabkan jatuhnya eksistensi seseorang, sehingga saya memiliki gurauan sok-sok filsafatis mengenai fenomena
salting alias salah tingkah saat berada di dekat orang lain, “Aduh,
eksistensialisme gue jatuh nih di depan dia…”
Lain cerita jika
teman saya adalah orang dengan rasa kepedulian rendah atau cuek. Bisa jadi
kecemasan semacam itu tidak akan muncul di pikirannya. Ia akan menikmati
keberadaannya di suatu tempat dengan lebih nyaman, sesuka hatinya tanpa perlu
memedulikan penilaian atau bahkan keberadaan orang lain di sekitarnya.
Nah berbicara
kepedulian, kembali dengan pernyataan sang Bintang Laut, sebagaimana Patrick
bersabda “the less you care, the happier you will be”, semakin sedikit Anda
peduli, semakin Anda akan bahagia. Sabdanya seakan menjawab awangan saya
mengenai siapakah manusia paling bahagia di dunia. Muncul jawaban nyeleneh bahwa manusia yang paling
bahagia adalah manusia tanpa rasa kepedulian. Ia tidak akan memedulikan hal
semacam penampilan atau bahkan ekstrimnya ia seorang apatis yang entah mungkin disebabkan
kerusakan pada bagian korteks prefrontal otaknya. Tidak peduli atas fitrahnya
sebagai makhluk sosial, tidak ada rasa khawatir atas ini itu. He lives his life
by his own mind, benar-benar sendiri. Akan tetapi, jika orang ini benar ada di
dunia sekarang, saya meragukan penerimaan orang lain atasnya. Ah, tapi hal itu tidak
akan menjadi masalah bagi orang apatis tersebut bukan?
Rujukan:
Gorman, C., Park, A., Withaker, L., Cray,
D. The Science Of Anxiety (2002)
diakses dari http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1002605,00.html
King, L. (2011). The Science of Psychology. New York : McGraw-Hill.
9gag.com

No comments:
Post a Comment