24.6.12

THE LESS YOU CARE, THE HAPPIER YOU WILL BE



Ya, itu merupakan kutipan dari Scumbag Genius Patrick Star. Saya menemukannya saat berkunjung ke halaman tumblr teman. Awalnya hanya menganggap lalu, tapi kemudian terbawa pada suatu awangan.

Saya pernah berpikir tentang siapakah manusia yang paling bahagia di dunia. Apakah orang dengan kekayaan terbanyak? Kekayaan memang tidak bisa membeli kebahagiaan, tapi ia dapat membantu dalam mencapai kebahagiaan itu toh? Ah, tapi saya tidak merasa sreg dengan dugaan yang satu itu.

Pernah saya mendengar curhatan teman mengenai penampilannya. Ia terkadang merasa cemas atas orang–orang di sekitarnya. Alasan di balik kecemasannya adalah ia beranggapan bahwa perhatian orang–orang di sekitar terhadap dirinya disebabkan penampilannya; Teman saya ini mengasumsikan asumsi orang lain. Kecemasan itu membuat dirinya tidak nyaman selama ia berada di suatu tempat sehingga seringkali ia berkeinginan untuk pergi dari tempat tersebut jika rasa cemas itu muncul.

Ada pula inspirasi dari kutipan lain yang sekiranya berhubungan dengan perkataan si Jenius Patrick. “Over-thinking ruins you. Ruins the situation, twists things around, makes you worry and just makes everything much worse than it actually is.” – NN. Saya berpikir pendek bahwa yang menyebabkan over-thinking itu adalah rasa cemas, sesuai pengalaman saya sendiri.

Sedari tadi saya seperti mengkambinghitamkan rasa cemas. Memangnya rasa cemas itu siapa? Sebenarnya rasa cemas merupakan perasaan yang wajar, seperti yang disebutkan King (2011) bahwa “anxiety is such everyday feelings”. Menurut Gorman dkk. (2002) kecemasan adalah “sort of feeling that sneaks up on you from the day after tomorrow”. Kecemasan menjaga manusia dari perasaan terlalu aman, ia membuat manusia berusaha untuk survive dalam hidupnya. Contoh ekstrimnya, Gorman mengumpamakan “humans have felt it since the days they shared the planet with saber-toothed tigers”.

Lalu, di mana hubungan penjelasan rasa cemas dari kedua tokoh dengan pengalaman teman saya? Well mengenai survive dalam hidup, saya berpikiran bahwa kecemasan yang ada pada teman saya, membantunya untuk survive, agar sesuai dengan batas penampilan yang wajar menurut orang lain (yang sebenarnya batasan tersebut hanya buah pikiran teman saya ini). Singkat kata, penampilan diri yang “wajar” merupakan aspek hidup yang ingin dituju teman saya. Hal ini sekiranya muncul seiring kepedulian teman saya atas penilaian orang terhadap dirinya. Sehingga saya mengira kecemasan tersebut berakar dari rasa peduli meski belum menemukan pendapat ahli tentang ini.

Lebih lanjut tentang perkiraan mengenai akar kecemasan, teman saya cemas akan penampilannya karena ia peduli atas penilaian orang lain. Tidak mengherankan jika dalam kelas Filsafat Manusia dijelaskan bahwa Sartre menganggap orang lain adalah neraka, “hell is other people”. Keberadaan orang lain menyebabkan jatuhnya eksistensi seseorang, sehingga saya memiliki gurauan sok-sok filsafatis mengenai fenomena salting alias salah tingkah saat berada di dekat orang lain, “Aduh, eksistensialisme gue jatuh nih di depan dia…”  

Lain cerita jika teman saya adalah orang dengan rasa kepedulian rendah atau cuek. Bisa jadi kecemasan semacam itu tidak akan muncul di pikirannya. Ia akan menikmati keberadaannya di suatu tempat dengan lebih nyaman, sesuka hatinya tanpa perlu memedulikan penilaian atau bahkan keberadaan orang lain di sekitarnya.

Nah berbicara kepedulian, kembali dengan pernyataan sang Bintang Laut, sebagaimana Patrick bersabda “the less you care, the happier you will be”, semakin sedikit Anda peduli, semakin Anda akan bahagia. Sabdanya seakan menjawab awangan saya mengenai siapakah manusia paling bahagia di dunia. Muncul jawaban nyeleneh bahwa manusia yang paling bahagia adalah manusia tanpa rasa kepedulian. Ia tidak akan memedulikan hal semacam penampilan atau bahkan ekstrimnya ia seorang apatis yang entah mungkin disebabkan kerusakan pada bagian korteks prefrontal otaknya. Tidak peduli atas fitrahnya sebagai makhluk sosial, tidak ada rasa khawatir atas ini itu. He lives his life by his own mind, benar-benar sendiri. Akan tetapi, jika orang ini benar ada di dunia sekarang, saya meragukan penerimaan orang lain atasnya. Ah, tapi hal itu tidak akan menjadi masalah bagi orang apatis tersebut bukan?

Rujukan:
  
Gorman, C., Park, A., Withaker, L., Cray, D. The Science Of Anxiety (2002)
diakses dari http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,1002605,00.html

King, L. (2011). The Science of Psychology. New York: McGraw-Hill.

9gag.com

No comments:

Post a Comment